Menyisir kota dermaga kala fajar

Rumahku tergolong sederhana, dengan taman hijau yang masih bisa menyegarkan mata. Beberapa pot bunga atau tanaman verbena yang tertata rapih menjadikan pagar rumah kami penuh warna. Dari sini, butuh waktu 1 jam berjalan kaki menuju SMA dermaga, lokasinya tepat dijantung kota yang manis, terlindung tepat diantara beberapa bangunan tua sisa penjajahan. Namun aku bisa mempersingkat waktu hampir setengahnya dengan menaiki petepete dari jalan utama.


Melewati lorong yang beratap kayu, aku bisa menjumpai penjual ikan mulai memperhatikan timbangan yang ditengarai ada kecurangan, tampak sedikit keributan tercipta akibat para pengepul dan penjual yang masing-masing tak mau kehilangan laba. Berjalan lebih jauh, beberapa toko penjual saling berdampingan dari mulai kebutuhan pokok, kedai kecil penjual makanan hingga beberapa kebutuhan sandang dan papan.


Berselang dua toko kelontong, tepat bersebelahan dengan toko musik dan olah raga adalah  itu sekolah ku, sebuah bangunan tua lain yang dihiasi tanaman merambat pada tembok. Hampir mirip sekolah bersejarah di ibu kota negara, namun tak diramaikan oleh kendaraan pribadi yang lalu lalang dan menyebabkan kemacetan.


Siswa yang datang mengenakan seragam putih biru diturunkan oleh mobil atau motor orang tuanya, beberapa ada yang saling bertutur sapa, nampak seperti kawan lama. Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, setiap murid diwajibkan datang untuk mengikuti orientasi sekolah, termasuk mencari tau di kelas mana nantinya kami akan ditempatkan. Sebagian besar masih sibuk mengerumuni papan informasi yang tergantung tepat di lorong masuk, mencari nama mereka dan kelas apa.

Aku membenamkan diri diantara puluhan siswa dan siswi lainnya didepan papan, mencari namaku diantara lembaran-lembaran bertuliskan nama itu.

Fajar Dibalik Awan Kelabu

Biru dan kelabu masih bercampur dengan cahaya lampu dermaga, tempat yang paling terang benderang kala gelap datang. Beberapa drum tergelontorkan satu satu meninggalkan perahu, diangkat oleh anak-anak berperawakan tangguh, mereka tertawa bersamaan dengan ombak yang menepuk kayu bagang penyangga dermaga.


Walau baru dua minggu, aku belajar mengagumi kota ini melalui desiran ombak dan kehidupan metropolis kecil berbau amis tiap hari. Alasan sederhana yang mengawali kehidupan kami berdua, aku dan mama. Ia menolak menerima bantuan dari teman-teman ayah yang entah bagaimana kami membalasnya, mereka terlalu baik.